Tren Pusat Perbelanjaan – Tinjauan Shopping Attitude And Behavior
Suatu jajak pendapat terbatas terhadap sekelompok mahasiswa baru Universitas Indonesia pada September 2004. Kepada mereka ditanyakan tentang apa yang mereka harapkan dari pemerintah dalam hal penyediaan ruangan umum. Hasilnya, gambaran kasar bahwa mereka yang tinggal di kota-kota kecil menginginkan adanya mal. Sedangkan yang berasal dari DKI Jakarta menginginkan adanya ruang terbuka yang hijau (Republika, 18 Maret 2005).
Hasil tersebut, menurut pengajar tetap Universitas Indonesia Gunawan Tjahyono, merupakan gambaran kehidupan orang-orang yang jauh dari kehidupan mal terisi oleh ilusi tentang mal. Hasil tadi juga menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa yang terlalu sering mengalami kehidupan mal adanya mal sudah menjemukan. Kelompok kedua ini justru ingin menikmati hal yang bertolak belakang. Mereka membutuhkan ruang terbuka yang lebih membebaskan daripada berada dalam kepalsuan gedung.
Shopping Center Vs Trade Center
Lokasi belanja, berupa shopping center (pusat perbelanjaan) maupun trade center (pusat perdagangan), kini tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Ini terjadi seiring dengan kondisi ekonomi dsn politik yang semakin baik. Pada tahun 2003, luas pusat perbelanjaan mencapai 1,6 juta meter persegi. Tahun 2004 meningkat menjadi 1,96 juta meter persegi.
Perbandingan pusat perbelanjaan dengan jumlah penduduk di Indonesia terbesar jika dibandingkan dengan Negara tetangga Singapura, Malaysia, dan Thailand.
|
|
Pusat Perbelanjaan |
|
Melayani |
| Singapura |
1 |
: |
63.000 orang |
| Malaysia |
1 |
: |
108.000 orang |
| Bangkok |
1 |
: |
170.000 orang |
| Jakarta |
1 |
: |
372.000 orang |
Setelah tahun 2000 para pengembang bukannya membangun pusat perbelanjaan yang menjadi tren sebelumnya, tetapi beralih ke pusat perdagangan (trade center) yang dikemas seperti pusat perbelanjaan. Sebenarnya ada perbedaan yang signifikan antara Shopping Center dengan Trade Center, mulai dari status toko, luas toko, jumlah toko, jenis dagangan, target market, waktu usaha, sampai motivasi masyarakat datang.
Shopping Center Vs Trade Center
|
|
Shopping Center (Pusat perbelanjaan) |
Trade Center (Pusat perdagangan) |
| Status toko | Sewa | Hak milik |
| Luas toko | rata-rata 40 m2 | 8-20 m2
Anchor tenant di atas 2.000 m2 |
| Jumlah toko | <500 unit | >2.000 unit |
| Jenis dagangan | lebih teratur dan ditentukan pihak pengelola | bebas & tak ada batasan |
| Target market | end user | pedagang |
| Waktu usaha | 10.00-22.00 | 10.00-17.00 |
| Motivasi masyarakat datang | belanja, sosialisasi, rekreasi, dsb | hanya untuk berbelanja |
Pada kenyataannya mal belum tentu menjadi tujuan berbelanja bagi yang menginginkan kehadirannya. Bisa saja mereka ke sana karena ingin terlibat di dalamnya sehingga berkesempatan memperagakan diri, cuci mata, menikmati suguhan hiburan atau menemukan selebriti. Pusat perbelanjaan kini tak sekedar tempat mendapatkan barang. Tetapi pusat perbelanjaan juga menawarkan hiburan, panggung hidup untuk berperan, dan latar menyatakan kehadiran diri.
Shopping Attitude & Behavior (sikap dan perilaku berbelanja)
Selama beberapa tahun ini, penelitian yang mendalam telah dilakukan berkaitan sikap konsumen terhadap shopping. Hal itu dikarenakan sikap konsumen mempunyai dampak penting pada cara konsumen bertindak dalam lingkungan eceran. Khususnya, pengecer harus berusaha keras mengubah persepsi negative yang ada saat ini. Berikut ini beberapa hasil penelitian terbaru tentang sikap berbelanja:
- Shopping Enjoyment
Banyak orang (55 persen) tidak menyukai berbelanja. Bagi banyak orang, mengunjungi toko merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan. Hal itu berkaitan dengan suasana yang terlalu sesak/ramai sehingga orang cenderung mudah stress dan keluar toko dengan wajah berkeringat. Ketika International Mass Retailing Association bertanya pada pembelanja apa yang membuat mereka memilih toko yang akan dimasuki, pembelanja menjawab: yang pertama adalah toko yang tidak begitu sesak, memiliki karyawan yang bersikap baik, paling bersih serta ruang dalam yang rapi dan menyenangkan.
- Attitude Toward Shopping Time
Ketika diminta untuk menilai beberapa kegiatan yang disukai dalam mengisi waktu luang di luar rumah, para wanita menempatkan kegiatan berbelanja di urutan ketiga setelah makan diluar dan liburan. Sementara kaum pria menempatkannya pada urutan terakhir setelah liburan, makan di luar, olahraga, rekreasi, nonton film, kegiatan bersama anak-anak, dan kegiatan social.
Kemampuan pengecer untuk merencanakan dan menerapkan sebuah strategi yang tepat tergantung bagaimana ia mampu mengidentifikasi dan memahami pelanggannya dengan baik serta membentuk retail strategy mix-nya untuk menarik mereka. Bagaimana konsumen berbelanja (Consumer shopping) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu demografi, gaya hidup, kebutuhan dan keinginan, sikap dan perilaku berbelanja, tindakan pengecer yang mempengaruhi berbelanja, dan faktor-faktor lingkungan (Berman & Evans, 2001).
